<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Inilah aku... ada apanya?</title>
	<atom:link href="http://mcdodo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mcdodo.wordpress.com</link>
	<description>apa yang kau cari yang aku apa</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Nov 2011 03:51:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mcdodo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Inilah aku... ada apanya?</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mcdodo.wordpress.com/osd.xml" title="Inilah aku... ada apanya?" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mcdodo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Keutamaan mengasuh anak wanita</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/11/28/keutamaan-mengasuh-anak-wanita/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/11/28/keutamaan-mengasuh-anak-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 03:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lembar Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan Mengasuh Anak Wanita Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Saya pernah dikunjungi oleh seorang wanita yang mempunyai dua orang anak perempuan. Kemudian wanita tersebut meminta makanan kepada saya. Sayangnya, pada saat itu, saya sedang tidak mempunyai makanan kecuali sebiji kurma yang langsung saya berikan kepadanya. Kemudian wanita itu menerimanya dengan senang hati dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=332&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Keutamaan Mengasuh Anak Wanita</strong></p>
<p>Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Saya pernah dikunjungi oleh seorang wanita yang mempunyai dua orang anak perempuan. Kemudian wanita tersebut meminta makanan kepada saya. Sayangnya, pada saat itu, saya sedang tidak mempunyai makanan kecuali sebiji kurma yang langsung saya berikan kepadanya. Kemudian wanita itu menerimanya dengan senang hati dan membagikannya kepada dua orang anak perempuannya tanpa sedikitpun dia makan. Setelah itu, wanita tersebut bersama dua orang anak perempuannya pergi. Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam rumah. Lalu saya menceritakan kepada beliau tentang wanita dan kedua anak perempuannya itu.</p>
<p>Mendengar cerita saya ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>مَنْ ابْتُلِيَ مِنْ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنْ النَّارِ</strong><br />
<em>“Barangsiapa yang diuji dengan memiliki anak-anak perempuan, lalu dia dapat mengasuh mereka dengan baik, maka anak perempuannya itu akan menjadi penghalangnya baginya dari api neraka kelak.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 1329 dan Muslim no. 2629)<br />
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ</strong><br />
<em>“Barangsiapa yang mengasuh dua orang anak perempuannya hingga dewasa, maka dia dan aku akan datang bersamaan pada hari kiamat kelak.” Beliau jari-jemarinya.”</em> (HR. Muslim no. 2631)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Anak wanita adalah insan yang lemah, dia tidak diciptakan untuk bisa berdiri sendiri, karenanya biasanya dia membutuhkan seseorang yang bisa mengasuhnya. Tatkala orang-orang di masa jahiliah sudah menjadi adat mereka merendahkan dan menghinakan kaum wanita, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang dengan memberikan motifasi dan janji pahala yang besar kepada siapa saja yang mendidik mereka, memuliakan mereka, serta berbuat baik kepada mereka.</p>
<p>Kedua hadits di atas menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mempunyai anak wanita lalu dia mendidik dan mengasuh mereka dengan baik. Nabi shallallahu alaihi wasallam menjamin kedekatan orang itu dengan diri beliau dan beliau mengabarkan bahwa anak-anak perempuan tersebut bisa menjadi syafaat bagi mereka yang akan melindungi mereka dari api neraka.</p>
<p>Hanya saja butuh diingat bahwa keutamaan terlindung dari api neraka ini hanya berlaku bagi yang mempunyai anak wanita kemudian dia mengasuh dengan baik serta mendidik mereka dengan pendidikan yang islami. Adapun bagi yang mempunyai anak wanita tapi dia tidak memperdulikan pengasuhan dan pendidikan mereka maka dia tidak mendapatkan janji pahala di atas. Syafaat ini juga hanya didapatkan oleh orang yang muslim, karena sudah dimaklumi bersama bahwa orang kafir atau yang berbuat kesyirikan tidak berhak mendapatkan syafaat sama sekali.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=332&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/11/28/keutamaan-mengasuh-anak-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Duh Memalukan, Sebutan &#8221;Wahabi&#8221; Menyalahi Kaidah Bahasa Arab</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/11/22/duh-memalukan-sebutan-wahabi-menyalahi-kaidah-bahasa-arab/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/11/22/duh-memalukan-sebutan-wahabi-menyalahi-kaidah-bahasa-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 05:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lembar Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Badrul Tamam Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kelarga, sahabat, dan siapa saja yang komitmen dan istiqamah dengan sunnah-sunnahnya. Istilah &#8220;Wahabi&#8221; sedang menghangat seiring dengan gerakan deradikalisasi yang membidik para aktifis dakwah dan jihad. Bahkan secara tegas, Said Aqil Siraj, Ketua Umum PBNU telah mengaitkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=326&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Badrul Tamam</strong></p>
<p>Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kelarga, sahabat, dan siapa saja yang komitmen dan istiqamah dengan sunnah-sunnahnya.</p>
<p>Istilah &#8220;Wahabi&#8221; sedang menghangat seiring dengan gerakan deradikalisasi yang membidik para aktifis dakwah dan jihad. Bahkan secara tegas, Said Aqil Siraj, Ketua Umum PBNU telah mengaitkan antara radikalisme dengan pergerakan dakwah Wahabi. Dengan tegas ia menuduh gerakan dakwah yang merujuk kepada Al-Qur&#8217;an dan Sunnah dengan pemahaman ulama salaf ini sebagai biang kerok dan sumber konflik di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>“Kita bisa mencermati pergerakan paham Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah memasuki wilayah pendidikan dengan menyuntikkan ideologi puritanisme radikal, semisal penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di berbagai daerah bahkan sudah terjadi ‘tawuran’ akibat model dakwah Wahabi yang tak menghargai perbedaan pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa berpotensi menjadi ‘cikal bakal’ radikalisme,” tulis KH Said Aqil Siradj pada harian Republika (3/10/2011), dengan judul, Radikalisme, Hukum, dan Dakwah.</p>
<p>Sebenarnya, stigma &#8220;Wahabi&#8221; merujuk pada sosok ulama abad ke-18, bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimy An-Najdi. Gerakan dakwahnya mengusung tajdid dan tashfiyah  (pembaharuan dan pemurnian) akidah kaum muslimin dari beragam kemusyrikan dan amaliah yang tidak diajarkan oleh Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang dai yang tak pernah menyebut kiprah dakwahnya dengan penamaan dakwah Wahabi atau tak pernah mendirikan organisasi dakwah bernama Wahabi. Istilah Wahabi baru muncul belakangan, itupun dengan tujuan stigmatisasi oleh mereka yang tak setuju dengan pemikiran yang diusung dalam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. (Baca: Artawijaya, <a href="http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2011/10/07/16288/tudingan-wahabi-kontributor-teror-bom-tak-pernah-terbukti/"><em>Tudingan Wahabi Kontributor Teror Bom Tak Pernah Terbukti</em>)</a></p>
<p>Di Indonesia, stigma Wahabi juga pernah dilekatkan pada ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (PERSIS). Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, A. Hassan, dianggap sebagai pengusung paham  Wahabi di Indonesia. Bahkan, jauh sebelum itu, pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol pun pernah disebut sebagai pengusung dakwah Wahabi. Baik Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ataupun generasi dakwah selanjutnya di seluruh dunia yang sepaham dengan pemikirannya tak pernah ada yang dengan tegas menyatakan dirinya sebagai Wahabi. (Baca: Artawijaya, <a href="http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2011/10/07/16288/tudingan-wahabi-kontributor-teror-bom-tak-pernah-terbukti/"><em>Tudingan Wahabi Kontributor Teror Bom Tak Pernah Terbukti<em></em></em></a><em><em>)</em></em></p>
<p>Stigmatisasi &#8220;Wahabi&#8221; kepada jamaah kaum muslimin tertentu yang tidak sepaham dalam beberapa persoalan fikih ibadah dan tradisi keagamaan dengan paham yang dianut oleh Said Agil Siraj menjadi senjata pemecahbelah <em>Ukhuwah Islamiyah</em>. Padahal persoalan khilafiyah tidak boleh menjadi ma&#8217;aqid (pengikat) al-wala&#8217; dan al-bara&#8217;. Disebutkan dalam <strong><em>Maa Laa Yasa’ al-Muslima Jahluhu</em></strong>, DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi, &#8220;Jama’ah (persatuan) kaum muslimin tidak boleh terpecah hanya karena perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu’iyah ini. Walaupun hal ini tidak boleh menjadi halangan bagi seseorang untuk melakukan penelitian ilmiah dalam masalah ini, dengan harapan mendapatkan kebenaran hakiki. Tetapi dengan catatan jangan sampai menimbulkan debat kusir dan fanatisme.&#8221;</p>
<p>Maka penyematan gelar &#8220;wahabi&#8221; itu hanya dilakukan oleh orang, yang sadar atau tidak, ingin memecah belah umat. Apalagi stigma ini akan diarahkan demi satu kepentingan duniawi, mencari dukungan suara kelompok tertentu atau supaya mendapat imbalan dari pihak berkuasa. Sehingga ia menjadi senjata yang diarahkan kepada siapa yang berbeda dengannya dan tak sepahaman dengan kebijakannya. Padahal yang dituduh wahabi banyak yang tidak mengakui dan menamakan diri sebagai wahabi. Terkadang mereka sendiri merasa aneh kok digelari wahabi hanya karena menerangkan sunnah dengan pemahaman ulama salaf, Aneh bin ajaib sekali.</p>
<p>Biasanya juga, &#8220;wahabi&#8221; dijadikan senjata untuk menolak argumentasi yang ditegakkan. Cukup dengan menyebut lawan diskusi sebagai wahabi, maka semua kalimat yang dilisankannya tak memiliki arti. Senjata yang sangat murah dan mematikan untuk membunuh argumentasi lawan diskusi. Juga ia menjadi promosi jitu untuk mencari dukungan dari maysarakat umum dan awam yang sudah terkena propaganda &#8220;anti wahabi&#8221;, yang seolah dikesankan wahabi anti dengan tradisi.</p>
<p>Dari pengkajian yang kami lakukan, orang yang disebut-sebut sebagai wahabi, -walaupun yang dituduh tidak pernah memakai nama wahabi dan tidak mengakuinya- adalah orang yang menyeru kepada <em>Qaulullah Wa Qaulurrasul</em> (firman Allah dan sabda Rasul-Nya). Dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab<em>rahimahullah</em> yang dikatakan sebagai pendiri wahabi adalah seorang dai  pada abad 18 Hijriyah yang mengajak manusia kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Mengajak manusia untuk kembali kepada akidah para ulama salaf dari kalangan sahabat Nabi dan dua generasi yang mengikuti mereka dengan baik. Di mana Allah menjadikan keimanan mereka sebagai standar keimanan,</p>
<h3><strong>فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ</strong></h3>
<p>&#8220;<em>Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).</em>&#8221; (QS. Al-Baqarah: 137)</p>
<p>Dakwah beliau <em>rahimahullah</em> mengajak manusia kepada sunnah Rasulillah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> dan mengikuti manhaj para sahabatnya dalam memahami sunnah. Jika demikian apa yang salah dari dakwah beliau? Memang diakui bahwa prinsip fikih yang beliau anut adalah Hambali, mengikuti paham fikih Imam Ahmad bin Hambal. Dan Hambali termasuk satu dari empat madhab fikih besar yang diakui dan menjadi bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Isi dakwah beliau yang paling menonjol adalah memberikan prioritas kepada perbaikan akidah dan meninggalkan berbagai bentuk kesyirikan, memerangi bid&#8217;ah dan khurafat yang banyak digandrungi oleh ahli kalam dan ghulath mutashawifi serta Syi&#8217;ah. Beliau mengajak untuk mengikuti akidah para salaf (baca; sahabat, tabi&#8217;in dan tabi&#8217; tabi&#8217;in) dalam akidah dan amal. Dakwah beliau juga mengkritisi semua paham yang bertentangan dengan paham ulama salaf dan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah. Dari sini terbukti bahwa manhaj dakwah beliau adalah Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah, agar kaum muslimin mengembalikan persoalan keislaman kepada Al-Qur&#8217;an dan al-Sunnah sesuai dengan yang dipahami generasi sahabat Nabi<em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em> dan dua generasi sesudahnya.</p>
<p>Maka dari sini, gerakan dakwah yang mereka tuduh sebagai wahabi adalah dakwah yang menyeru kepada tauhidullah (mengesakan Allah), mentaati Allah dan Rasul-Nya. &#8220;Wahabiyah&#8221; tidak membawa paham baru, namun mengikuti dan melanjutkan paham Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah yang orisinil, yaitu menyeru kepada tauhidullah dan ittiba&#8217; kepada Rasul-Nya Muhammad<em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>. Dan dalam persoalan fikih mereka lebih banyak mengambil dari madhab Hambali yang dinisbatkan kepada Ahmad bin Hambal, murid kesayangan dari Imam al-Syafi&#8217;i <em>rahimahullah Ta&#8217;ala</em>. Kecuali jika didapatkan dalam beberapa persoalan madhab Hambali menyalahi pendapat ulama yang arjah (lebih kuat)<em>,</em> yakni berdasarkan dalil yang mendukungnya, maka mereka mengambil dalil. Dan ini merupakan intisari dari madhab imam yang empat. &#8220;Jika hadits itu jelas shahih maka itulah madhabku&#8221; kata imam al-Syafi&#8217;i.</p>
<p><strong>Kesimpulan dan Penutup</strong></p>
<p>Dimunculkannya istilah &#8220;Wahhabi&#8221; sebagai julukan bagi pengikut dakwah Al-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, merupakan satu trik musuh-musuh Islam dan orang yang dalam hatinya terdapat kedengkian dan penyakit untuk menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid tersebut. Oleh karena itu setiap muwahhid dan pecinta sunnah Rasul yang bersih hatinya serta selektif dalam menerima berita tidak mudah untuk ditipu dan dibohongi dengan istilah-istilah murahan seperti &#8216;aliran wahabi&#8217;.</p>
<p>Ngawurnya tuduhan tadi dapat dilihat dari salah kaprahnya dalam menggunaan  istilah &#8220;Wahhabi&#8221;, yang merupakan penisbatan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Al-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz <em>rahimahullah </em>berkata: “Penisbatan (Wahhabi -pen) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.” (Lihat Imam wa Amir wa Da’watun Likullil ‘Ushur, hal. 162)</p>
<p>Masihkah orang yang suka menebar permusuhan dan perpecahan umat Islam tetap keukeuh menggunakan isu wahabi ini? Jika tidak tahu malu, pasti dia akan terus mengangkat istilah wahabi untuk menghantam penyeru dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah. Karena orang yang tak punya malu akan berbuat sesukanya, ngawurpun tak mengapa. Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam. [PurWD/voa-islam.com]</p>
<p>sumber : <a href="http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/11/19/16415/duh-memalukan-sebutan-wahabi-menyalahi-kaidah-bahasa-arab/">http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/11/19/16415/duh-memalukan-sebutan-wahabi-menyalahi-kaidah-bahasa-arab/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/326/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=326&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/11/22/duh-memalukan-sebutan-wahabi-menyalahi-kaidah-bahasa-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM WASILAH (TAWASSUL)</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/11/16/hukum-wasilah-tawassul/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/11/16/hukum-wasilah-tawassul/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 05:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Lembar Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Al-Wasilah secara etimologi (bahasa) adalah segala hal yang dapat menyampaikan serta dapat mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasaa-il. Wasilah secara terminologi (syar’i) adalah yang diperintahkan didalam Al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada AllahI yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. Allah I berfirman: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=226&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al-Wasilah secara etimologi (bahasa) adalah segala hal yang dapat menyampaikan serta dapat mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasaa-il.</p>
<p>Wasilah secara terminologi (syar’i) adalah yang diperintahkan didalam Al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah<span style="font-family:'AGA Arabesque';">I</span> yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. Allah <span style="font-family:'AGA Arabesque';">I</span> berfirman:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maa-idah: 35)</p>
<p>Ibnu Abbas <span style="font-family:'AGA Arabesque';"><span style="font-size:xx-large;"><span style="font-size:x-small;">t</span></span></span> berkata: “Makna Wasilah dalam ayat tersebut adalah peribadahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah (al-Qurbah).” Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujahid, Abu Wa’il, al-Hasan, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatadah berkata tentang makna ayat tersebut:</p>
<p>“Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya” Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari (IV/567), Cet. Daarul Kutub al-Ilmiyyah dan Tafsir Ibni KAtsir (II/6). Cet. Daarus Salaam.</p>
<p>Adapun tawassul (mendekatkan diri kepada Allah dengan cara tertentu) ada tiga macam:</p>
<ol>
<li>Masyru’, Yaitu tawassul kepada Allah <span style="font-family:'AGA Arabesque';">U</span> dengan Asma’ dan Sifat-Nya dengan amal shalih yang dikerjakannya atau melalui do’a orang yang shalih yang masih hidup.</li>
<li>Bid’ah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah <span style="font-family:'AGA Arabesque';">U </span>dengan cara yang tidak disebutkan dalam syariat, speperti tawassul dengan para Nabi dan orang-orang shalih, dengan kedudukan mereka, kehormatan mereka dan sebagainya.</li>
<li>Syirik, bila menjadikan orang-orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah, termasuk do’a kepada mereka, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka. (Mujmal Ushuul Ahlis-Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqidah hal 15-17)</li>
</ol>
<div>
<h2><strong>PENJELASAN TAWASSUL YANG MASYRU&#8217;</strong></h2>
<p>Tawassul yang masyru’ (yang disyariatkan) ada 3 Macam:</p>
<ol>
<li>Tawassul dengan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.<br />
Yaitu seseorang yang memulai do’a kepada Allah dengan meng-agungkan, membesarkan, memuji, mensucikan terhadap dzat-Nya yang Mahatinggi, Nama-Nama-Nya yang indah dan Sifat-Sifat-Nya yang tinggi kemudia berdo’a dengan apa yang Dia inginkan dengan menjadikan pujian, pengagungan dan pensucian ini hanya untuk Allah agar Dia mengabulkan do’a dan mengabulkan apa yang dia minta kepada Rabb-nya.<br />
Dalil dari al-Qur’an tentang tawassul yang masyru’ ini adalah firman Allah Ta’ala:Hanya milik Allah asmaa-ul husna , maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya . Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-Araaf: 180) Berkata Abu yusuf dari Imam Abu Hanifah -rahimahumullah- : “Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk berdo’a kepada Allah kecuali dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya. Dan tidak diragukan lagi apabila telah shahih dari Nama-Nama Allah, maka begitu juga dalam sifat-sifat-Nya. Karena sebagian Nama-Nama Allah berasal dari Sifat-sifat-Nya. Dan tidak masuk akal apabila sifat-sifat itu ada bagi sesuatu yang tidak memiliki dzat.“Dalil dari As-Sunnah tentang tawassul yang masyru’ ini adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span> , bahwa Rasullulah <span style="font-family:'AGA Arabesque';">r</span> mendengar seseorang mengucapkan:<br />
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu. Sesungguhnya bagi-Mu segala pujian, tidak ada ilah yang berhak diibadahi degan benar kecuali Engkau Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Mu, Mahapemberi Nikmat, pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Ya Rabb Yang memiliki keagungan dan kemuliaan, ya Rabb Yang Mahahidup, ya Rabb yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar dimasukkan (ke Surga dan aku berlindung kepada-Mu dan siksa Neraka)“<br />
Rasullulah <span style="font-family:'AGA Arabesque';">r</span> bersabda:<br />
“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah dengan Nama-Nya Yang paling Agung yang apabila seseorang berdo’a akan dikabulkan, dan apabila ia meminta akan dipenuhi permintaanya.” (HR Abu Dawud no 1495, an-Nasa’i III/52, dan Ibnu Majah 3858, dari sahabat Anas bin Malik <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span> . lihat shahih ibnu majah II/329) Juga hadits lain yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasullulah <span style="font-family:'AGA Arabesque';">r</span> berdo’a:“Wahai Rabb Yang Mahahidup, wahai Rabb Yang Mahaberdirisendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan Rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan-Mu).” (HR. An-Nasa’i, al-Bazzar dan al-Hakim I/545. Hadits ini hasan, lihat shahiihut Targhib wat-Tarhiib I/417, no 661)</li>
<li>Seorang Muslim bertawassul dengan Amal shalihnya.<br />
Allah Ta’ala berfirman:<br />
(Yaitu) orang-orang yang berdo’a: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (QS Ali-Imran: 16)Dalil lainnya adalah tentang kisah tiga orang penghuni gue yang bertawassul kepada Allah dengan Amal-amal mereka yang shalih lagi ikhlas, yang mereka tujukan untuk mengharap wajah Allah yang Mahamulia, maka mereka diselamatkan dari batu yang menutupi mulut gua tersebut. (HR Bukhari no 2272, 3465 dan Muslim no 2743)</li>
<li>Tawassul kepada Allah dengan do’a orang shalih yang masih hidup.<br />
Jika seorang Muslim menghadapi kesulitan atau tertimpa musibah besar, namun ia menyadari kekurangan-kekurangan dirinya dihadapan Allah, sedang ia ingin mendapatkan sebab yang kuat kepada Allah, lalu ia pergi kepada orang yang diyakini keshalihan dan ketakwaanya, atau memiliki keutamaan dan pengetahuan tentang al-Qur’an dan Sunnah, kemudian ia meminta kepada orang shalih itu agar berdo’a kepada Allah untuk dirinya, supaya ia dibebaskan dari kesedihan dan kesusahan, maka cara demikian ini termasuk tawassul yang dibolehkan seperti:<br />
pertama, hadits yan gdiriwayatkan oleh Anas bin Malik <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span> ia berkata: “Pernah terjadi musim kemarau pada masa Rasulullah<span style="font-family:'AGA Arabesque';">r</span> , yaitu ketika Nabi <span style="font-family:'AGA Arabesque';">r</span> berkhutbah dihari Jum’at. Tiba-tiba berdirilah seorang Arab Badui, ia berkata: ‘Ya Rasulullah telah musnah harta dan telah kelaparan keluarga‘ Lalu Rasulullah mengangkat kedua tanggannya seraya berdo’a: ‘Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami‘. Tidak lama kemudian, hujanpun turun” (HR Bukhari no 932, 933, 1013 dan Abu Dawud no. 1174)kedua,hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Umar bin al-Khaththab <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span> -ketika terjadi musim paceklik- ia meminta hujan melalui Abbas bin Abdil Muththalib <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span> , lalu berkata: “Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami memohon kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka berilah hujan.” Ia (Anas bin Malik) berkata: “Lalu merekapun diberi hujan” (HR Bukhari no 1010 dan Ibnu Sa’d dalam ath-thabaqaat IV/28-29 dan Mukhtashar al-Bukhari no 536)</li>
</ol>
</div>
<div>
<h2><strong>PENJELASAN TAWASSUL YANG BID’AH</strong></h2>
<div>
<p>Tawassul yang bid’ah yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat. Tawassul yang bid’ah ini ada beberapa macam, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Tawassul dengan kedudukan Nabi Muhammad <span style="font-family:'AGA Arabesque';">r</span> atau kedudukan orang selainnya.<br />
Perbuatan ini adalah bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Adapun hadits yang berbunyi:<br />
“<em>Jika kalian hendak memohon kepada Allah, maka mohonlah kepada-Nya dengan kedudukanku disisi Allah adalah agung</em>“.<br />
Hadits ini bathil dan tidak ada asal-usulnya dan tidak terdapat sama sekali dalam kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan, tidak juga seorang ulamapun yang menyebutnya sebagai hadits (Majmu fatawa I/319 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah). Jika tidak ada satupun dalil yang shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.</li>
<li>Tawassul dengan dzat mahluk.<br />
Tawassul ini -<em>seperti bersumpah dengan mahluk</em>- tidak dibolehka, sebab sumpah mahluk terhadap mahluk tidak dibolehkan, bahkan termsuk syirik, sebagaimaan disebutkan didalam hadits. Dan Allah tidak menjadikan permohonan kepada mahluk sebagai sebab dikabulkannya do’a dan Dia tidak mensyariatkan hal tersebut kepada para hamba-Nya</li>
<li>Tawassul dengan mahluk.<br />
Tawassul inipun tidak dibolehkan, karena dua alasan:<br />
<em><strong>pertama,</strong></em> bahwa Allah tidak wajib memenuhi hak atas seseorang, tetapi justru sebaliknya, Allah-lah yang menganugerahi hak tersebut kepada mahluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:<br />
“<em>Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman</em>” <strong>(QS Ar-ruum: 47)</strong><br />
Orang yang taat mendapat balasan (kebaikan) dari Allah karena anugerah dan nikmat, bukan karena balasan setara sebagaimana mahluk dengan mahluk yang lain.<br />
<em><strong>kedua, </strong></em>hak yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya, adalah hak khusus bagi diri hamba tersebut. jika ada yang bertawassul dengannya, padahal dia tidak mempunyai hak berarti dai bertawassul dengan perkara asing yang tidak ada kaitannya antara dirinya dengan hal tersebut dan itu tidak bermanfaat untuknya sama sekali.<br />
Adapun ahdits yang berbunyi:<br />
“<em>Aku mohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang memohon</em>“<br />
hadits ini dhaif sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad (III/21), lafazh ini milik Ahmad dan Ibnu Majah. Dalam sanad hadits ini terdapat Athiyyah al -Aufi dari Abu Sa’id al-khudri <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span>. Athiyyah adalah perawi yang dhaif seperti yang dikatakan oleh imam Nawawi -<em>rahimahumullah</em>- dalam al-Adzkaar, imam Ibnu Taimiyyah -<em>rahimahumullah</em>- dalam al-Qaa’idatul Jaliilah dan imam Adz-dzhabi dalam al-Miizaan, bahkan dikatakan (dalam adh-Dhu’aafaa’,I/88): “<em>Disepakati kedhaifannya</em>!!” demikian pula oleh al-Hafizh al-Haitsami ditempat lainnya dari Majma’uz Zawaa-id (V/236). (Dinukil dari Tawassul ‘Anwaa-uhu wa Ahkamuhu hal 99 oleh Syaikh Albani, cet Daarus Salafiyah)</li>
</ol>
<h2><strong>PENJELASAN TAWASSUL YANG SYIRIK</strong></h2>
<p>Tawassul yang syirik, yaitu menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah seperti berdo’a kepada mereka, meminta hajat, atau memohon pertolongan sesuatu kepada mereka.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>“<em>Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar</em>” <strong>(QS Az-Zumar: 3)</strong></p>
<p>Tawassul dengan meminta do’a kepada orang mati tidak dibolehkan bahkan perbuatan ini adalah syirik akbar. Karena mayit tidak mampu berdo’a seperti ketika ia masih hidup. Demikian juga meminta syafa’at kepada orang mati, karena Umar bin al-Khaththab <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span>, Mu’awiyah bin Abi Sufyan <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span>, dan para sahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul dan meminta syafaat kepada orang yang masih hidup, seperti kepada al-Abbas bin Abdil Muthalib dan Yazid bin al-Aswad. Mereka tidak bertawassul, meminta syafa’at dan memohon diturunkannya hujan melalui Nabi Muhammad <span style="font-family:'AGA Arabesque';">r</span>, baik dikuburan beliau atau pun di kuburan orang lain, tetapi mereka mencari pengganti dengan orang yang masih hidup.</p>
<p>Umar bin al-Khaththab <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span> berkata: “<em>Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepada-Mu denagn perantaraan Nabi-Mu, sehingga engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami. Ia (Anas) berkata:’Lalu Allah menurunkan hujan’ </em>“. <strong>(HR Bukhari no 1010)</strong></p>
<p>Mereka menjadikan al-Abbas <span style="font-family:'AGA Arabesque';">t</span> sebagai pengganti dalam bertawassul ketika mereka tidak lagi bertawassul kepada Nabi Muhammad <span style="font-family:'AGA Arabesque';">r</span>, sesuai dengan yang disyariatkan sebagaimana yang telah mereka lakukan sebelumnya. Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk datang kekubur Nabi <span style="font-family:'AGA Arabesque';">r</span> dan bertawassul melalui beliau, jika memang hal itu dibolehkan. Dan mereka para sahabat <span style="font-family:'AGA Arabesque';"><em>y</em></span> yang meninggalkan praktek-praktek tersebut merupakan bukti tidak diperbolehkannya bertawassul dengan orang mati, baik meminta do’a maupun syafa’at baik kepada orang mati.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=226&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/11/16/hukum-wasilah-tawassul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muslim Prayer Time</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/07/26/muslim-prayer-time/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/07/26/muslim-prayer-time/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2011 02:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/2011/07/26/muslim-prayer-time/</guid>
		<description><![CDATA[Dapatkan Widget Jadwal Sholat!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=225&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://c.gigcount.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTMxMTY*NzM1Mjc1MCZwdD*xMzExNjQ3MzY5MjE4JnA9MjM4OTgxJmQ9TXVzbGltJTIwUHJheWVyJTIwVGltZSUyMDAxJm49/d29yZHByZXNzJmc9MSZvPThmMDEwM2UzM2U5ZjQ3N2E4NTlhYjMzY2M5YzgxZGEzJm9mPTA=.gif" />
<div style="width:100%;text-align:center;margin:0 auto;"><a href="http://www.al-habib.info/islamic-widget/prayer-times.htm"><img width="160" src="http://www.al-habib.info/islamic-widget/muslim-prayer.php?&amp;mpt_lat=-7.324123500000001&amp;mpt_lng=112.74201100000005&amp;mpt_tz=Asia%2FJakarta&amp;mpt_sz=&amp;mpt_iz=&amp;mpt_loc=Jalan+Jemursari+Selatan%2C+Surabaya%2C+Indonesia&amp;mpt_w=160&amp;mpt_dp=d&amp;mpt_pre=1&amp;mpt_cn=1&amp;mpt_fq=Shafi&amp;mpt_lang=Indonesia&amp;mpt_thm=black" style="border:0;" alt="Waktu sholat untuk Jalan Jemursari Selatan, Surabaya, Indonesia. Widget Jadwal Sholat oleh Alhabib." /></a>
<div style="width:160px;margin:0 auto;padding:3px;"><a style="text-decoration:none;font-size:.7em;" href="http://www.al-habib.info/">Dapatkan Widget Jadwal Sholat!</a></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=225&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/07/26/muslim-prayer-time/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://c.gigcount.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTMxMTY*NzM1Mjc1MCZwdD*xMzExNjQ3MzY5MjE4JnA9MjM4OTgxJmQ9TXVzbGltJTIwUHJheWVyJTIwVGltZSUyMDAxJm49/d29yZHByZXNzJmc9MSZvPThmMDEwM2UzM2U5ZjQ3N2E4NTlhYjMzY2M5YzgxZGEzJm9mPTA=.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.al-habib.info/islamic-widget/muslim-prayer.php?&#38;mpt_lat=-7.324123500000001&#38;mpt_lng=112.74201100000005&#38;mpt_tz=Asia%2FJakarta&#38;mpt_sz=&#38;mpt_iz=&#38;mpt_loc=Jalan+Jemursari+Selatan%2C+Surabaya%2C+Indonesia&#38;mpt_w=160&#38;mpt_dp=d&#38;mpt_pre=1&#38;mpt_cn=1&#38;mpt_fq=Shafi&#38;mpt_lang=Indonesia&#38;mpt_thm=black" medium="image">
			<media:title type="html">Waktu sholat untuk Jalan Jemursari Selatan, Surabaya, Indonesia. Widget Jadwal Sholat oleh Alhabib.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengirim Pahala Bacaan Al Qur’an Untuk Orang yang telah Meninggal</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/07/06/mengirim-pahala-bacaan-al-qur%e2%80%99an-untuk-orang-yang-telah-meninggal/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/07/06/mengirim-pahala-bacaan-al-qur%e2%80%99an-untuk-orang-yang-telah-meninggal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 16:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Lembar Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan; Apabila dibacakan Al Qur’an, apakah pahalanya sampai kepada si mayyit? Asy-Syaikh Muqbil Al Wadi’i -Rahimahullah Menjawab: Tidak sampai, dan ini adalah pendapat Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (Qs. An-Najm (39);53). Dan juga hadist yang diriwayatkan oleh Muslim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=218&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><em>Pertanyaan;</em> Apabila dibacakan Al Qur’an, apakah pahalanya sampai kepada si mayyit?</p>
<p>Asy-Syaikh Muqbil Al Wadi’i -Rahimahullah Menjawab:</p>
<p><em>Tidak sampai</em>, dan ini adalah pendapat Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “<em>Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya</em>” (Qs. An-Najm (39);53). Dan juga hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari hadist Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda, “<em>Apabila anak adam meninggal dunia terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariyah, atau anak yang shalih yang mendoakannya, atau ilmu yang bermanfaat</em>”.</p>
<p>Apabila anak adam meninggal dunia terputuslah amalannya, beliau tidak katakan amalan orang lain (melainkan amalannya –pentj), orang yang membolehkannya bersandar kepada alasan ini, dan sebenarnya tidak ada dalil yang tegas untuknya, bahkan dalil yang tegas adalah bahwa ketika dua anak perempuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meninggal dunia, dan Utsman bin Madz’un, Hamzah, serta beberapa orang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memerintahkan untuk mengirim bacaan untuk mereka? Atau beliau tidak memerintahkannya? Beliau tidak memerintahkan untuk membacakan Al Qur’an untuk mereka.<strong></strong></p>
<p><strong>Manusia (sekarang) lebih memperhatikan bid’ah dan meninggalkan yang wajib, saya tidak katakan mereka meninggalkan sunnah, bahkan mereka meninggalkan yang wajib.</strong></p>
<p>Katakan kepada mereka, orang-orang yang lalai; mana yang harus didahulukan membayarkan hutang-hutang si mayyit atau membacakan untuknya Al Qur’an?! (Akan tetapi) yang mereka dahulukan adalah membaca Al Qur’an. Mana yang lebih utama juga membayarkan hutang-hutangnya atau membacakan untuknya Al Qur’an?! Mereka mengutamakan membacakan Al Qur’an. Kaum muslimin telah mengambil ajaran Islam melalui taklid, “<em>Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar</em>” (Qs. Al Baqarah; 111).</p>
<p>Tidak ada riwayat yang menerangkan kalau Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu membacakan Al Qur’an untuk Fathimah Radhiyallahu ‘Anha disaat Fathimah Radhiyallahu ‘Anha wafat, mana (riwayat) tersebut dengan sanad yang shahih?! Mana (riwayat) anak-anaknya Abu Bakar (pernah) membacakan Al Qur’an kepada Abu Bakar As-Shiddiq?! Yang penting saudara-saudaraku fillah, sekalian kesengsaraan dan kerugian ada pada selain jalan Allah Ta’ala.</p>
<p>Apabila seseorang mewakafkan tanah demi bacaan Al Qur’an (agar dibacakan untuknya Al Qur’an -pentj) maka wakaf tersebut batil (tidak sah -pentj) dan dibagi-bagikan di antara ahli warisnya kecuali kalau para ahli waris ingin agar tanah tersebut tetap untuk kemaslahatan seperti untuk madrasah tahfidz Al Qur’an atau untuk sumur (umum) atau yang lainnya dari maslahat-maslahat yang bermanfaat, maka yang demikian itu tidak mengapa. Wallahul musta’an.</p>
<p>Sumber : Ijabatus Sa’il no: 35, dikutip dari http://www.ahlussunnah-jakarta.com, Penulis: Asy-Syaikh Muqbil Al Wadi’i –Rahimahullah,Judul: Mengirim Pahala Bacaan Al Qur’an Untuk Mayyit</p>
<p>Baca artikel terkait:</p>
<p><a title="Taut Tetap ke Al-Qur’an untuk Orang Yang Masih Hidup bukan Untuk Orang Sudah Meninggal" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/05/al-quran-untuk-orang-yang-masih-hidup-bukan-untuk-orang-sudah-mati/" rel="bookmark">Al-Qur’an untuk Orang Yang Masih Hidup bukan Untuk Orang Sudah Meninggal</a></p>
<p><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/05/2009/04/24/tahlilan-dalam-kaca-mata-islam-serta-historisnya/">Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam serta Historisnya</a></p>
<p>Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/">http://qurandansunnah.wordpress.com/</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=218&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/07/06/mengirim-pahala-bacaan-al-qur%e2%80%99an-untuk-orang-yang-telah-meninggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dzikir-Dzikir Setelah Shalat Wajib</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/06/25/dzikir-dzikir-setelah-shalat-wajib/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/06/25/dzikir-dzikir-setelah-shalat-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 12:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan Berdzikir Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu, bilangannya dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan waktunya tanpa dalil, atau membuat cara-cara berdzikir tersendiri tanpa disertai dalil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=212&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/18/dzikir-dzikir-setelah-shalat-wajib/" target="_blank"><strong>Keutamaan Berdzikir</strong></a></p>
<p>Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu, bilangannya dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/18/dzikir-dzikir-setelah-shalat-wajib/" target="_blank"><em>Al-Qur`an dan As-Sunnah</em></a>, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan waktunya tanpa dalil, atau membuat cara-cara berdzikir tersendiri tanpa disertai dalil baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang shahih/hasan, seperti berdzikir secara berjama’ah (lebih jelasnya lihat kitab Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid, Al-Ibdaa’ fii Kamaalisy Syar’i wa Khatharul Ibtidaa’, Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah, dan lain-lain).</p>
<p>Atau dzikir-dzikir yang sifatnya muthlaq, yaitu dzikir di setiap keadaan baik berbaring, duduk dan berjalan sebagaimana diterangkan oleh ‘A`isyah bahwa beliau berdzikir di setiap keadaan (HR. Muslim). Akan tetapi tidak boleh berdzikir/menyebut nama Allah di tempat-tempat yang kotor dan najis seperti kamar mandi atau wc.</p>
<p>Diantara ayat yang menjelaskan <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/18/dzikir-dzikir-setelah-shalat-wajib/" target="_blank">keutamaan berdzikir</a> adalah:</p>
<p>1. Firman Allah,</p>
<h2><strong>فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ</strong></h2>
<p>“<em>Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku</em>.” (Al-Baqarah:152)</p>
<p>2. Firman Allah,</p>
<h2><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا</strong></h2>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya</em>.” (Al-Ahzaab:41)</p>
<p>3. Firman Allah, “<em>Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar/jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar</em>.” (Al-Ahzaab:35)</p>
<p>4. Firman Allah,</p>
<p><strong>وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِين</strong></p>
<p>“<em>Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai</em>.” (Al-A’raaf:205)</p>
<p>Adapun di dalam As-Sunnah, Diantaranya:</p>
<p>1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<h2><strong>مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ</strong></h2>
<p>“<em>Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati</em>.” (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)</p>
<p>Adapun lafazh Al-Imam Muslim adalah,</p>
<h2><strong>مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِيْ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِيْ لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ</strong></h2>
<p>“<em>Permisalan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebut nama Allah adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati</em>.”</p>
<p>2. Dari ‘Abdullah bin Busrin radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam telah banyak atasku, maka kabarkan kepadaku dengan sesuatu yang aku akan mengikatkan diriku dengannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,</p>
<h2><strong>لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ</strong></h2>
<p>“<em>Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah</em>.” (HR. At-Tirmidziy 5/458 dan Ibnu Majah 2/1246, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/139 dan Shahiih Sunan Ibni Maajah 2/317)</p>
<p>3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<h2><strong>مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ</strong></h2>
<p>“<em>Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf</em>.” (HR. At-Tirmidziy 5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir 5/340)</p>
<p><strong>Dzikir-dzikir Setelah Salam dari Shalat Wajib</strong></p>
<p>Diantara dzikir-dzikir yang sifatnya muqayyad adalah dzikir setelah salam dari shalat wajib. Setelah selesai mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, kita disunnahkan membaca dzikir, yaitu sebagai berikut:</p>
<p>1. Membaca:</p>
<h2><strong>أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ</strong></h2>
<p>“<em>Aku meminta ampunan kepada Allah (tiga kali). Ya Allah, Engkaulah As-Salaam (Yang selamat dari kejelekan-kejelekan, kekurangan-kekurangan dan kerusakan-kerusakan) dan dari-Mu as-salaam (keselamatan), Maha Berkah Engkau Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Baik</em>.” (HR. Muslim 1/414)</p>
<p>2. Membaca:</p>
<h2><strong>لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ</strong></h2>
<p>“<em>Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menolak terhadap apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau tolak dan orang yang memiliki kekayaan tidak dapat menghalangi dari siksa-Mu</em>.” (HR. Al-Bukhariy 1/255 dan Muslim 414)</p>
<p>3. Membaca:</p>
<h2><strong>لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ</strong></h2>
<p>“<em>Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada Allah, milik-Nya-lah segala kenikmatan, karunia, dan sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, kami mengikhlashkan agama untuk-Nya walaupun orang-orang kafir benci</em>.” (HR. Muslim 1/415)</p>
<p>4. Membaca:</p>
<h2><strong>سُبْحَانَ اللهُ</strong></h2>
<p>“<em>Maha Suci Allah.” (tiga puluh tiga kali)</em></p>
<h2><strong>اَلْحَمْدُ لِلَّهِ</strong></h2>
<p>“<em>Segala puji bagi Allah.” (tiga puluh tiga kali)</em></p>
<h2><strong>اَللهُ أَكْبَرُ</strong></h2>
<p>“<em>Allah Maha Besar.” (tiga puluh tiga kali)</em></p>
<p>Kemudian dilengkapi menjadi seratus dengan membaca,</p>
<h2><strong>لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</strong></h2>
<p>“<em>Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu</em>.”</p>
<p>“<em>Barangsiapa mengucapkan dzikir ini setelah selesai dari setiap shalat wajib, maka diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan</em>. (HR. Muslim 1/418 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “<em>Ada dua sifat (amalan) yang tidaklah seorang muslim menjaga keduanya (yaitu senantiasa mengamalkannya, pent) kecuali dia akan masuk jannah, dua amalan itu (sebenarnya) mudah, akan tetapi yang mengamalkannya sedikit, (dua amalan tersebut adalah): mensucikan Allah Ta’ala setelah selesai dari setiap shalat wajib sebanyak sepuluh kali (maksudnya membaca Subhaanallaah), memujinya (membaca Alhamdulillaah) sepuluh kali, dan bertakbir (membaca Allaahu Akbar) sepuluh kali, maka itulah jumlahnya 150 kali (dalam lima kali shalat sehari semalam, pent) diucapkan oleh lisan, akan tetapi menjadi 1500 dalam timbangan (di akhirat). Dan amalan yang kedua, bertakbir 34 kali ketika hendak tidur, bertahmid 33 kali dan bertasbih 33 kali (atau boleh tasbih dulu, tahmid baru takbir, pent), maka itulah 100 kali diucapkan oleh lisan dan 1000 kali dalam timbangan</em>.”</p>
<p>Ibnu ‘Umar berkata, “<em>Sungguh aku telah melihat Rasulullah menekuk tangan (yaitu jarinya) ketika mengucapkan dzikir-dzikir tersebut</em>.”</p>
<p>Para shahabat bertanya, “<em>Ya Rasulullah, bagaimana dikatakan bahwa kedua amalan tersebut ringan/mudah akan tetapi sedikit yang mengamalkannya?</em>“</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “<em>Syaithan mendatangi salah seorang dari kalian ketika hendak tidur, lalu menjadikannya tertidur sebelum mengucapkan dzikir-dzikir tersebut, dan syaithan pun mendatanginya di dalam shalatnya (maksudnya setelah shalat), lalu mengingatkannya tentang kebutuhannya (lalu dia pun pergi) sebelum mengucapkannya</em>.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no.5065, At-Tirmidziy no.3471, An-Nasa`iy 3/74-75, Ibnu Majah no.926 dan Ahmad 2/161,205, lihat Shahiih Kitaab Al-Adzkaar, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy 1/204)</p>
<p>Kita boleh berdzikir dengan tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali dengan ditambah tahlil satu kali atau masing-masing 10 kali, yang penting konsisten, jika memilih yang 10 kali maka dalam satu hari kita memakai dzikir yang 10 kali tersebut.</p>
<p>Hadits ini selayaknya diperhatikan oleh kita semua, jangan sampai amalan yang sebenarnya mudah, tidak bisa kita amalkan.</p>
<p>Tentunya amalan/ibadah semudah apapun tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah. Setiap beramal apapun seharusnya kita meminta pertolongan kepada Allah, dalam rangka merealisasikan firman Allah,</p>
<h2><strong>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</strong></h2>
<p>“<em>Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan</em>.” (Al-Faatihah:4)</p>
<p>5. Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas satu kali setelah shalat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya`. Adapun setelah shalat Maghrib dan Shubuh dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud 2/86 dan An-Nasa`iy 3/68, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/8, lihat juga Fathul Baari 9/62)</p>
<p>6. Membaca ayat kursi yaitu surat Al-Baqarah:255</p>
<p>Barangsiapa membaca ayat ini setiap selesai shalat tidak ada yang dapat mencegahnya masuk jannah kecuali maut. (HR. An-Nasa`iy dalam ‘Amalul yaum wal lailah no.100, Ibnus Sunniy no.121 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami’ 5/339 dan Silsilatul Ahaadiits Ash-Shahiihah 2/697 no.972)</p>
<p>7. Membaca:</p>
<h2><strong>اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ</strong></h2>
<p>Sebagaimana diterangkan dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua tangannya dan berkata, “<em>Ya Mu’adz, Demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu Ya Mu’adz, janganlah sekali-kali engkau meninggalkan di setiap selesai shalat, ucapan..</em>.” (lihat di atas):</p>
<p>“<em>Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu</em>.” (HR. Abu Dawud 2/86 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiih Sunan Abi Dawud 1/284)</p>
<p>Do’a ini bisa dibaca setelah tasyahhud dan sebelum salam atau setelah salam. (‘Aunul Ma’buud 4/269)</p>
<p>8. Membaca:</p>
<h2><strong>لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</strong></h2>
<p>“<em>Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, yang menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu</em>.”</p>
<p>Dibaca sepuluh kali setelah shalat Maghrib dan Shubuh. (HR. At-Tirmidziy 5/515 dan Ahmad 4/227, lihat takhrijnya dalam Zaadul Ma’aad 1/300)</p>
<p>9. Membaca:</p>
<h2><strong>اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً</strong></h2>
<p>“<em>Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.” Setelah salam dari shalat shubuh</em>. (HR. Ibnu Majah, lihat Shahiih Sunan Ibni Maajah 1/152 dan Majma’uz Zawaa`id 10/111)</p>
<p>Semoga kita diberikan taufiq oleh Allah sehingga bisa mengamalkan dzikir-dzikir ini, aamiin.</p>
<p>Wallaahu A’lam.</p>
<p>Maraaji’: Hishnul Muslim, karya Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Shahiih Kitaab Al-Adzkaar wa Dha’iifihii, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy dan Al-Kalimuth Thayyib, karya Ibnu Taimiyyah.</p>
<p>Dikutip dari Salafy.or.id offline Penulis: Bulletin Al Wala wal Bara, <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/07/18/dzikir-dzikir-setelah-shalat-wajib/" target="_blank">Judul: Seputar masalah shalat (dzikir setelah shalat)</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=212&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/06/25/dzikir-dzikir-setelah-shalat-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dzikir Berjamaah Dengan Suara Keras dan Badan Bergoyang-goyang</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/06/25/dzikir-berjamaah-dengan-suara-keras-dan-badan-bergoyang-goyang/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/06/25/dzikir-berjamaah-dengan-suara-keras-dan-badan-bergoyang-goyang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 12:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Lembar Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari http://www.asysyariah.com, Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamaal Al-Bugisi, Judul : Bid’ahnya Dzikir Berjamaah     Sesungguhnya di antara nikmat yang Allah berikan kepada manusia adalah dengan disempurnakannya agama ini, agama yang dengannya Rasulullah shallallah aialihi wasallam diutus membawa risalah dari Allah Ta’ala. Sehingga ketika manusia menghadapi problema hidupnya, sepantasnya ia merujuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=205&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<address>Dikutip dari http://www.asysyariah.com, Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamaal Al-Bugisi, Judul : Bid’ahnya Dzikir Berjamaah</address>
<address> </address>
<address> </address>
<p>Sesungguhnya di antara nikmat yang Allah berikan kepada manusia adalah dengan disempurnakannya agama ini, agama yang dengannya Rasulullah shallallah aialihi wasallam diutus membawa risalah dari Allah Ta’ala. Sehingga ketika manusia menghadapi problema hidupnya, sepantasnya ia merujuk kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang shahih. Sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah: “<em>Kenikmatan yang mutlak adalah yang berkelanjutan, berupa kebahagiaan yang abadi yaitu nikmat Islam dan As Sunnah.</em>” (Ijtima’ul Juyusy, Ibnul Qayyim)</p>
<p>Di sisi lain, para setan di bawah kepemimpinan Iblis terlaknat juga tidak akan pernah berhenti untuk melakukan tipu daya dengan berbagai rayuan manis sehingga menampakkan kebatilan seperti sebuah kebenaran yang tak perlu diragukan. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوْءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا </strong></p>
<p>“<em>Maka apakah orang yang menganggap baik pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)?</em>” (Fathir:</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p><strong>قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِيْنَ أَعْمَالاً. الَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدَُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعاً</strong></p>
<p><em>“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat yang sebaik-baiknya’</em>.” (Al-Kahfi: 103-104)</p>
<p>Namun seiring dengan munculnya kesesatan dan penyimpangan tersebut, akan tetap muncul para pembela sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menjelaskan kesesatan orang-orang yang mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil. Juga membendung orang ataupun kelompok yang senantiasa mengaburkan dakwah yang benar yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya.</p>
<p>Di antara golongan yang menyimpang dari petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya adalah kaum Sufiyah. Aliran ini telah banyak memberikan ‘kontribusi’ kepada Islam dengan beragam bid’ahnya, yakni berupa model-model ibadah yang tidak ada asalnya dalam syariat. Parahnya lagi, setiap tarekat sufi mempunyai cara dan model tersendiri yang berbeda dengan kelompok sufi lainnya, tergantung bagaimana pemimpin mereka membuatnya.</p>
<p>Contoh yang paling nyata dan ‘terkini’ adalah model dan cara berdzikir ala Arifin Ilham, seorang tokoh sufi yang berasal dari Banjarmasin. Dengan gaya bahasa dan tutur katanya yang ‘lembut’, ia mampu memikat sekian banyak orang untuk ikut serta dalam acaranya. Pria wanita, tua muda, politikus maupun orang kebanyakan tak ketinggalan untuk terlibat di dalam amalan yang disebutnya sebagai dzikir taubat dan semacamnya. Secara berjamaah, dibacalah apa yang disebut dzikir itu dengan suara keras, diikuti suara tangisan sambil menggerak-gerakkan anggota tubuh. Tak ketinggalan untuk dibaca asmaul husna, shalawat Nabi, dan beberapa ayat Al Qur’an dengan cara serupa, suatu model yang sama sekali tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah beliau sebut dengan BID’AH.</p>
<p><strong>Pengertian Bid’ah</strong></p>
<p>Bid’ah telah didefinisikan Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah dalam kitabnya Al-I’tisham: “Suatu jalan yang diada-adakan di dalam agama yang ingin menyamai syariat, yang dimaksudkan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Azza Wajalla.”</p>
<p>Dan beliau membaginya menjadi dua bagian:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Bid’ah haqiqiyyah, yaitu bid’ah yang sama sekali tidak didasari dengan dalil yang syar’i, tidak terdapat dalam Al Qur’an, tidak pula dalam As Sunnah. Dan tidak pula dalam ijma’ maupun qiyas, serta tidak berdasarkan pendalilan yang benar menurut ahli ilmu baik secara global maupun terperinci.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Bid’ah idhafiyyah, yaitu bid’ah yang memiliki dua unsur. Unsur pertama berhubungan dengan dalil. Dari sisi ini, belum merupakan bid’ah. Namun dari unsur yang lain, tidak ada hubungan dengan dalil dan persis seperti bid’ah haqiqiyyah. Dan hal ini terkadang disebabkan karena adanya tambahan dalam cara mengerjakannya, waktu dan tempat yang tidak sesuai, dan sebagainya. (Al-I’tisham)</p>
<p>Dari pembagian tersebut, jelaslah bahwa tidak semua amalan yang asalnya dibangun di atas dalil, menjadi perkara yang disyariatkan secara utuh dari segala sisi. Namun harus dilihat dari cara, tempat, waktu, dan jumlahnya. Berkata As-Suyuthi rahimahullah dalam kitabnya Al-Amru bil Ittiba’ ketika menyebutkan bahwa sebagian bid’ah terkadang disangka oleh mayoritas kaum muslimin sebagai ibadah, ketaatan, dan cara mendekatkan diri kepada-Nya:</p>
<p>“<em>Bagian yang kedua: Ada yang dianggap oleh sebagian manusia sebagai amalan taat dan mendekatkan diri (kepada Allah), padahal tidak demikian. Apakah meninggalkan amalan tersebut lebih afdhal dari melakukannya, yaitu apa-apa yang telah diperintahkan oleh syariat pada satu bentuk di antara sekian bentuk, pada waktu yang khusus atau tempat tertentu, seperti puasa di siang hari ataukah thawaf di Ka’bah? Ataukah (syariat) memerintahkan kepada seseorang tanpa yang lain, seperti yang Nabi shallallahu alaihi wsalallam khususkan dalam beberapa perkara mubah atau beberapa keringanan? Maka (datanglah) orang yang bodoh mengqiyaskannya. Kemudian diapun melakukannya, padahal hal tersebut terlarang atau mengqiyaskan sebagian bentuk (ibadah) dengan lainnya tanpa membedakan tempat dan waktu</em>.” (Ilmu Ushul Bida’, hal. 77, ‘Ali Al-Halabi)</p>
<p>Di sini kami akan memberikan beberapa contoh tentang hal tersebut:</p>
<p>1) Membaca Al Qur’an merupakan ibadah yang mulia dan banyak keutamaannya sebagaimana disebutkan dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Cukuplah kami sebutkan di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Abu Umamah radhiallahu anhu. Ia berkata: Aku telah mendengar Rasululllah shallalahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>اقْرَؤُوا الْقْرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصْحَابِهِ</strong></p>
<p>“<em>Bacalah kalian Al Qur’an, karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada para ahlinya</em>.”</p>
<p>Meski keutamaannya besar, membaca Al Qur’an ternyata dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika dilakukan di saat sujud maupun ruku’ dalam shalat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma bahwa Rasululah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>أَلآ إِنِّيْ نُهِيْتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِداً فَأَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظِّمُوْا فِيْهَ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِي الدُّعَاءِ فَقمن أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ</strong></p>
<p>“<em>Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al Qur’an dalam keadaan ruku’ maupun sujud. Adapun ruku’, maka agungkanlah Rabb kepadanya. Adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, maka selayaknyalah dikabulkan bagi kalian</em>.”</p>
<p>2) Demikian pula shalat yang merupakan sebaik-baik perkara dan termasuk amalan yang paling afdhal, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:</p>
<p><strong>الصَّلاَةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ</strong></p>
<p>“<em>Shalat adalah sebaik-baik perkara</em>.”</p>
<p>(HR. At-Thabrani dalam Mu’jam Ash-Shagir dari Abu Hurairah radhiallahu anhu)</p>
<p>Namun ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang shalat pada waktu-waktu tertentu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Ia berkata:</p>
<p><strong>شَهِدَ عِنْدِيْ رِجَالٌ مَرْضِيُّوْنَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِيْ عُمَرُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَجْرِ حَتَّى تَطَّلِعَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ </strong></p>
<p>“<em>Telah bersaksi di sisiku beberapa orang yang diridhai dan yang paling aku ridha adalah ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang shalat setelah fajar hingga terbitnya matahari, dan setelah ‘Ashar hingga terbenamnya matahari</em>.”</p>
<p>Maka cukuplah dua contoh ini mewakili yang lainnya dalam menjelaskan bahwa amalan ibadah merupakan perkara tauqifiyyah.</p>
<p>Penyimpangan dalam Dzikir Berjamaah Model Arifin Ilham</p>
<p><strong>1- Membaca dengan Suara Keras secara Berjamaah</strong></p>
<p>Hal ini telah diingkari oleh para ulama karena tidak ada dasarnya sama sekali dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun kalangan shahabat, tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga ini merupakan perkara bid’ah yang harus dijauhi. Berkata Asy-Syathibi rahimahullah:</p>
<p>“<em>Apabila syariat menganjurkan dzikrullah kemudian suatu kaum menerapkannya dengan cara berkumpul di atas lisan dan suara yang satu. Atau pada waktu khusus yang telah diketahui di mana syariat tidak menetapkan pengkhususan itu, bahkan sebaliknya. Sebab, mewajibkan hal-hal yang tidak wajib secara syar’i berarti keadaannya adalah memahamkan syariat, khususnya bila orang itu dijadikan contoh dalam perkumpulan manusia seperti masjid-masjid. Maka apabila penampakannya seperti ini lalu diaplikasikan di masjid-masjid seperti syi’ar-syi’ar Islam lainnya yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di masjid-masjid dan semisalnya –seperti adzan, shalat ‘ied, istisqa, dan kusuf-, maka tidaklah diragukan bahwa (hal tersebut) difahami sebagai perkara sunnah, dan tidak difahami sebagai wajib. Lalu lebih pantas untuk tidak dikategorikan ke dalam dalil tersebut, maka dari sisi inilah menjadi bid’ah</em>.”</p>
<p>Lalu beliau berkata: “Seperti pula doa, karena itu termasuk dzikrullah. Namun mereka (as-salafush shalih, red) tidak menetapkan cara-cara tertentu dan tidak mengkhususkan waktunya, -di mana hal itu memberikan isyarat adanya pengkhususan ibadah pada waktu-waktu tersebut- kecuali yang telah ditentukan oleh dalil, seperti waktu pagi dan petang. Dan mereka tidak menampakkannya kecuali apa yang dinyatakan syariat unutuk ditampakkan (di-jahr-kan), seperti berdzikir pada dua hari raya (takbir) dan yang semisalnya. Adapun selain itu, maka mereka senantiasa menyembunyikannya dan men-sirr-kannya. Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan kepada mereka ketika mereka mengangkat suaranya:</p>
<p><strong>أَرْبِعُوْا عَلىَ أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا</strong></p>
<p>“<em>Kasihanilah diri-diri kalian sesungguhnya kalian tidaklah meminta kepada yang tuli dan tidak hadir</em>.” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>dan yang semisalnya. Maka mereka tidak mengeraskannya pada perkumpulan-perkumpulan.</p>
<p>Maka setiap yang menyelisihi prinsip ini, maka sungguh dia telah menyelisihi dalil yang mutlak. Karena dia mengkhususkannya dengan akal dan menyelisihi orang yang lebih mengerti tentang syariat –yaitu mereka para ulama salafus shalih-. Bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggalkan suatu amalan yang beliau senang mengerjakannya, karena khawatir diamalkan oleh manusia lalu diwajibkan atas mereka.” (Al-I’tisham, 1/318-319, Asy-Syathibi)</p>
<p><strong>2)- Bid’ahnya Shalawat Model Arifin Ilham:</strong></p>
<p>Inilah model shalawat yang diucapkan pada dzikir bid’ahnya:</p>
<p><strong>يَا نَبِيُّ سَلاَمٌ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلُ سَلاَمٌ عَلَيْكَ</strong></p>
<p><strong>يَا حَبِيْبُ سَلاَمٌ عَلَيْكَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ </strong></p>
<p>Dan dalam buku tulisan Ahmad Dimyathi Badruzzaman tentang dzikir berjamaah menyebutkannya dengan lafadz:</p>
<p><strong>السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ اللهِ </strong></p>
<p><strong>السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ</strong></p>
<p><strong>السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللهِ</strong></p>
<p>Lafadz model ini termasuk shalawat yang menyimpang dari Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena tidaklah demikian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan umatnya. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “<em>Shalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan lafadz hadits lebih afdhal dari setiap lafadz, dan tidaklah ditambah seperti pada (lafadz adzan dan tasyahhud). Ini dikatakan oleh imam yang empat dan selainnya</em>.” (Mukhtashar Fatawa Al-Mishriyyah, hal. 92)</p>
<p>Demikian pula lafadz “habibullah” tidaklah shahih penisbahannya kepada Rasulullah shallallahu aalihi wasallam. Berkata Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah:</p>
<p>“Telah tsabit bagi Nabi shallallahu alaihi wasallam mendapatkan derajat kecintaan tertinggi, yaitu khullah (khalilullah yang berarti kekasih dekat Allah, red). Sebagaimana telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya:</p>
<p><strong>إِنَّ اللهَ اتَّخَذَنِي خَلِيلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalil sebagaimana telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>dan sabdanya:</p>
<p><strong>وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أَهْلِ اْلأَرْضِ خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً وَلَكِنْ صَاحِبُكُمْ خَلِيْلُ الرَّحْمَنِ</strong></p>
<p>“<em>Kalau sekiranya aku mengambil dari penduduk bumi sebagai khalil, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Namun shahabat kalian ini (yaitu Nabi) adalah khalilnya Ar-Rahman.</em>” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan juga semakna diriwayatkan Muslim)</p>
<p>Dan keduanya terdapat dalam kitab Shahih. Dengan kedua (hadits) ini membatalkan perkataan yang mengatakan: Al-Khullah (khalilullah) untuk Ibrahim sedangkan Al-Mahabbah (Habibullah) untuk Muhammad. Maka Ibrahim adalah Khalilullah sedangkan Muhammad adalah Habibullah.”</p>
<p>Lalu beliau melanjutkan, “Adapun mahabbah maka itu didapatkan oleh selain beliau shallallahu alaihi wasallam. Allah berfirman:</p>
<p><strong>وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ</strong></p>
<p>“<em>Dan Allah cinta kepada setiap orang yang berbuat baik</em>.” (Ali ‘Imran: 134)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p><strong>فَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah cinta (mahabbah) kepada orang yang bertaqwa</em>.” (Ali ‘Imran: 76)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p><strong>فَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah cinta kepada orang yang selalu bertaubat dan bersuci</em>.” (Al-Baqarah: 222)</p>
<p>Maka batallah pendapat yang mengatakan kekhususan khullah bagi Ibrahim dan mahabbah bagi Muhammad. Namun khullah adalah khusus bagi keduanya sedangkan mahabbah untuk umum. Adapun hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan At-Tirmidzi yang padanya terdapat:</p>
<p><strong>إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلُ اللهِ أَلآ وَأَنَا حَبِيْبُ اللهِ وَلاَ فَخْرَ</strong></p>
<p>‘Sesungguhnya <em>Ibrahim itu khalilullah. Ketahuilah, aku adalah habibullah dan tidak sombong</em>.’</p>
<p>Ini tidak shahih” (Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah, 1/164-165, tahqiq Al-Arnauth).</p>
<p><strong>3)- Mengeraskan dan Mengangkat Suara ketika Berdo’a</strong></p>
<p>Hal ini bertentangan dengan firman Allah yang memerintahkan untuk merendahkan suara di saat berdoa. Firman-Nya:</p>
<p><strong>وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً</strong></p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya. Dan carilah jalan tengah antara keduanya</em>.” (Al-Isra: 110)</p>
<p>Makna (بصلاتك) yaitu: doamu. Berkata ‘Aisyah radhiallahu anha: “Ayat ini diturunkan tentang doa.” (Muttafaqun alaihi)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p><strong>ادْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ</strong></p>
<p>“<em>Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas</em>.” (Al-A’raf: 55)</p>
<p>Berkata sebagian ahli tafsir: “<em>Makna ‘orang-orang yang melampaui batas’ dalam mengangkat suaranya dalam doa</em>.” Berkata Ibnu Juraij dalam menafsirkan ayat ini: ”<em>Termasuk melampaui batas: mengangkat suara dalam memanggil dan doa seperti berteriak. Adalah mereka diperintahkan merendahkan dan tenang</em>.” (Lihat Tash-hih Ad-Du’a, hal. 71, Bakr bin Abdillah Abu Zaid)</p>
<p><strong>4)- Menggerak-gerakkan Tubuh ketika Dzikir</strong></p>
<p>Ini termasuk menyerupai orang Yahudi ketika mereka membaca kitab mereka. Berkata Ar-Ra’i Al-Andalusi rahimahullah: “<em>Demikian pula penduduk Mesir telah menyerupai Yahudi dalam bergerak-gerak di saat belajar dan sibuk. Dan ini termasuk perbuatan orang Yahudi</em>.”</p>
<p>Berkata Bakr Abu Zaid: “<em>Wajib atas orang-orang yang berdzikir kepada Allah, yang bertawajjuh dengan doa kepada Allah, para penghafal kitab Allah, yang membuat madrasah-madrasah dan halaqah tahfidz Al Qur’an agar meninggalkan bid’ah bergerak-gerak ketika membaca. Dan hendaklah mendidik anak-anak kaum muslimin di atas sunnah dan menjauhi bid’ah</em>.” (Tash-hih Ad-Du’a, hal. 80-81) . Wallahul Muwaffiq Ilaa Sabiil Ar-rasyaad</p>
<p>sumber : http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/27/dzikir-berjamaah-dengan-suara-keras-dan-badan-bergoyang-goyang/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=205&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/06/25/dzikir-berjamaah-dengan-suara-keras-dan-badan-bergoyang-goyang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amalan Ringan namun SANGAT BERBOBOT</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/04/21/amalan-ringan-namun-sangat-berbobot/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/04/21/amalan-ringan-namun-sangat-berbobot/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 16:38:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Islam memang luar biasa. Bayangkan, hanya dengan membaca suatu lafal wirid tahlil tertentu sebanyak seratus kali setiap hari, maka Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjanjikan setidaknya empat manfaat. Kalimat tersebut berbunyi sebagai berikut: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Tidak ada ilah selain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=198&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Islam memang luar biasa. Bayangkan, hanya dengan membaca suatu lafal wirid tahlil tertentu sebanyak seratus kali setiap hari, maka Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjanjikan setidaknya empat manfaat. Kalimat tersebut berbunyi sebagai berikut:</p>
<h2>لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ</h2>
<h2>وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</h2>
<p><em>“Tidak ada ilah selain Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segenap kerajaan dan miliknya segenap puji-pujian. Dan Dia atas segala sesuatu Maha Berkuasa.”</em></p>
<p>Dalam sebuah hadits beliau menjanjikan empat manfaat yang bakal didapat si muslim sepanjang hari di mana ia membaca lafal tersebut sebanyak seratus kali.</p>
<p><em>Pertama</em>, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan bahwa muslim tersebut seolah telah memerdekakan sepuluh budak. Subhaanallah. Islam sangat menghargai orang yang memerdekakan budak. Berarti ia telah memberikan kesempatan bagi manusia tersebut untuk menjalani kehidupan yang lebih terhormat sebagai orang merdeka. Kedudukannya telah diangkat dari tempat yang semula rendah dan hina menjadi tinggi dan mulia. Pantas bilamana salah satu misi Islam yang dijelaskan oleh Rib’i bin Amer kepada Panglima Persia berbunyi:</p>
<h2>ابتعثنا الله لنخرج الناس من عبادة العباد لعبادة الله وحده</h2>
<p><em>“Kami diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata”</em></p>
<p><em>Kedua</em>, Allah mencatat bahwa ia telah memperoleh seratus kebaikan. Pada hari berbangkit manusia sangat berharap bahwa dirinya memiliki kebaikan yang banyak untuk memberatkan timbangan neraca mizannya. Ia sangat khawatir bilamana ia mendapati bahwa timbangan keburukannya lebih berat daripada timbangan kebaikannya. Sebab setiap amal ada ganjarannya dari Allah subhaanahu wa ta’aala. Kebaikan diberi hadiah sedangkan keburukan diberi hukuman.</p>
<h2>فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ</h2>
<p><em>”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS Az Zalzalah 7-8)</em></p>
<p><em>Ketiga</em>, Allah hapuskan seratus kesalahan yang telah dilakukannya. Subhaanallah. Tidak ada manusia yang bersih dari kesalahan. Setiap hari ada saja kesalahan yang manusia lakukan. Berarti wirid ini sangat penting untuk men-delete berbagai kesalahan yang sadar maupun tidak sadar kita lakukan.</p>
<p><em>Keempat, </em> Allah janjikan akan membentengi seseorang dari gangguan syaithan selama sehari-semalam. Padahal syaithan telah berbulat tekad untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Berarti dengan wirid ini seseorang akan memperoleh immunity setidaknya selama satu hari dari tipu daya syaithan.</p>
<p>Selengkapnya hadits tersebut berbunyi sebagai berikut:</p>
<h2><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ (البخاري</strong>)</h2>
<p><em>Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, &#8220;Brgsiapa membaca</em></p>
<h2>لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</h2>
<p><em>“Tidak ada ilah selain Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segenap kerajaan dan miliknya segenap puji-pujian. Dan Dia atas segala sesuatu Maha Berkuasa.” sebanyak seratus kali dalam sehari, maka hal itu setara dengan memerdekakan sepuluh budak, dan dituliskan untuknya seratus kebaikan serta dihapuskan beginya sertus kesalahan lalu ia memperoleh perlindungan dari syaithan pd hari tersebut sampai sore hari dan tidak seorangpun yang bisa menandinginya kecuali orang yang ber-&#8217;amal melebihi daripada itu.&#8221; (HR Bukhary)</em></p>
<p><a href="http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/tahlil-seratus-kali-sehari.htm" target="_blank">http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/tahlil-seratus-kali-sehari.htm</a><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=198&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/04/21/amalan-ringan-namun-sangat-berbobot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syarat tentang Do&#8217;a</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/04/21/syarat-tentang-doa/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/04/21/syarat-tentang-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 16:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lembar Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Agar do’a-do’a yang kita sampaikan kepada Allah SWT semaksimal mungkin mencapai pengabulan dari-Nya, maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Di antaranya sebagai berikut: 1) Hendaknya kita hanya meminta kepada Allah SWT, tidak mempersekutukanNya dengan siapapun إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=195&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agar do’a-do’a yang kita sampaikan kepada Allah SWT semaksimal mungkin mencapai pengabulan dari-Nya, maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Di antaranya sebagai berikut:<br />
1) Hendaknya kita <em><strong>hanya meminta kepada Allah SWT</strong></em>, tidak mempersekutukanNya dengan siapapun</p>
<h2>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</h2>
<p><em>“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah 5)</em></p>
<h2>وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ</h2>
<p><em>“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah 186)</em></p>
<p>2) Hendaknya kita semakin <em><strong>banyak melaksanakan berbagai perintah Allah berlandaskan iman kepada-Nya</strong></em>, serta dengan jalan menghidupkan berbagai sunnah Rasulullah SAW</p>
<h2>وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي</h2>
<p><em>”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku.” (QS Al-Baqarah 186)</em></p>
<h2>قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</h2>
<p><em>“Katakanlah, &#8220;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,<br />
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.&#8221;<br />
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran 31)</em></p>
<p>3) Hendaknya isi redaksi do’a tidak hanya mencakup urusan dunia semata, melainkan <em><strong>mencakup urusan dunia dan akhirat sekaligus</strong></em></p>
<h2>فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ</h2>
<p><em>“Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a, &#8220;Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia&#8221;, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.<br />
Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a, &#8220;Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.&#8221;<br />
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan;<br />
dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS Al-Baqarah 200-202)</em></p>
<h2>مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا<br />
نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ</h2>
<p><em>“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS Asy-Syuro 20)</em></p>
<p>4) Hendaknya do’a <strong><em>disampaikan dengan “merendahkan diri” dan “suara yang lembut”<br />
</em></strong></p>
<h2>ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</h2>
<p><em>“Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raf 55)</em></p>
<p><em><br />
</em>Dalam Shahihain diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdo’a, maka Rasulullah SAW bersabda:</p>
<h2>ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا قَرِيبًا</h2>
<p><em>“Hai manusia, kasihanilah dirimu karena kamu bukan menyeru kepada yang tuli dan gha’ib (tidak ada), yang kamu seru itu adalah Maha Mendengar,<br />
Maha Melihat dan Maha Dekat.”(HR Bukhari 22/385)</em></p>
<p>5) Hendaknya pada saat berdo’a <strong><em>memadukan di dalam jiwa perasaan “berharap” dan “takut”</em></strong>. Berharap kepada Allah SWT agar do’a tersebut dikabulkanNya, dan cemas kalau-kalau do’a kita tidak dikabulkan, bahkan tidak didengarNya.</p>
<h2>وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا</h2>
<p><em>“…dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” (QS Al-A’raf 56)</em></p>
<p>6) Hendaknya kita <strong><em>meyakini bahwa do’a kita pasti InsyaAllah dikabulkanNya</em></strong>. Cepat ataupun lambat. Di dunia ini maupun di akhirat kelak nanti. Yang penting kita tidak memaksa atau “mendikte” Allah SWT, suatu hal yang memang mustahil.</p>
<h2>وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ<br />
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</h2>
<p><em>“Dan Tuhanmu berfirman, &#8220;Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.&#8221; (QS Al-Mu’min 60)<br />
</em>Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya, karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah yang pedih. Maka Rasulullah SAW bersabda:</p>
<h2>مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ</h2>
<p><em>“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah swt, maka Allah murka kepadaNya.”<br />
(HR Ahmad)</em></p>
<p><a href="http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/tahlil-seratus-kali-sehari.htm" target="_blank">http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/syarat-syarat-do-039-a.htm</a><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=195&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/04/21/syarat-tentang-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>001 Al Fatihah</title>
		<link>http://mcdodo.wordpress.com/2011/04/14/001-al-fatihah/</link>
		<comments>http://mcdodo.wordpress.com/2011/04/14/001-al-fatihah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 16:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mcdodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mari Mengaji Bersama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mcdodo.wordpress.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Arti: Pembukaan &#124; Nama lain: Fatihatul Kitab, Ummul Qur&#8217;an, Ummul Kitab, as-Sab&#8217;ul Masani, al-Kanz, al-Wafiyah, al-Kafiyah, al-Asas, asy-Syafiyah, al-Hamd,  as-Shalah, al-Ruqyah, asy-Syukru, ad-Du&#8217;au, asy-Syifa, al-Waqiyah &#124; Klasifikasi: Makkiyah, Madaniyah &#124; Surah ke 1 &#124; Juz: Juz 1 Surah Al-Fatihah (Arab: الفاتح , al-Fātihah, &#8220;Pembukaan&#8221;) adalah surah pertama dalam al-Qur&#8217;an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=191&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="20" cellpadding="20">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Arti: 	Pembukaan  |    Nama lain:	Fatihatul Kitab, Ummul Qur&#8217;an, Ummul Kitab,  as-Sab&#8217;ul Masani, al-Kanz, al-Wafiyah, al-Kafiyah, al-Asas,  asy-Syafiyah, al-Hamd,  as-Shalah,  al-Ruqyah, asy-Syukru, ad-Du&#8217;au, asy-Syifa, al-Waqiyah |   Klasifikasi: 	Makkiyah,   Madaniyah |    Surah ke	1 |    Juz:	Juz 1</strong></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>Surah Al-Fatihah</strong> (<a title="Bahasa Arab" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Bahasa_Arab">Arab</a>: <strong>الفاتح</strong> , <em>al-Fātihah</em>, &#8220;Pembukaan&#8221;) adalah <a title="Surah" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Surah">surah</a> pertama dalam <a title="Al-Qur'an" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Al-Qur%27an">al-Qur&#8217;an</a>. Surah ini diturunkan di <a title="Makkiyah" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Makkiyah">Mekah</a> dan  terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama  diturunkan dengan lengkap diantara surah-surah yang ada dalam <a title="Al-Qur'an" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Al-Qur%27an">Al-Qur&#8217;an</a>. Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran. Dinamakan <em>Ummul Qur&#8217;an</em> (induk Al-Quran/<strong>أمّ القرءان</strong>) atau <em>Ummul Kitab</em> (induk Al-Kitab/<strong>أمّ الكتاب</strong>) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Dinamakan pula As Sab&#8217;ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang/<strong>السبع المثاني</strong>) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam <a title="Shalat" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Shalat">shalat</a>.</p>
<h2>Nama Lain</h2>
<p>Selain dinamai <em>Al-Fatihah</em> (Pembuka), surah ini sering juga disebut <em>Fatihatul Kitab</em> (Pembukaan Kitab), <em>Ummul Kitab</em> (Induk Kitab), <em>Ummul Qur&#8217;an</em> (Induk Al-Qur&#8217;an), <em>As-Sabu&#8217;ul Matsani</em>(Tujuh yang Diulang). Selain keempat sebutan tersebut, banyak ulama tafsir yang menyebutnya dengan: <em>Ash-Shalah</em> (Arab: <strong>الصلاة</strong>, Shalat), <em>al-Hamd</em> (Arab: <strong>الحمد</strong>, Pujian), <em>Al-Wafiyah</em> (Arab:<strong>الوافية</strong>, Yang Sempurna), <em>al-Kanz</em> (Arab: <strong>الكنز</strong>, Simpanan Yang Tebal), <em>asy-Syafiyah</em> (Yang Menyembuhkan), <em>Asy-Syifa</em> (Arab: <strong>الشفاء</strong>, Obat), <em>al-Kafiyah</em> (Arab: <strong>الكافية</strong>, Yang Mencukupi), <em>al-Asas</em> (Pokok), <em>al-Ruqyah</em> (Mantra), <em>asy-Syukru</em> (Syukur), <em>ad-Du&#8217;au</em> (Do&#8217;a), dan <em>al-Waqiyah</em> (Yang Melindungi dari Kesesatan)</p>
<h2>Al-Fatihah dalam Shalat</h2>
<p>Al-Fatihah merupakan satu-satunya surah yang dipandang penting dalam <a title="Shalat" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Shalat">shalat</a>. Shalat dianggap tidak sah apabila pembacanya tidak membaca surah ini.<a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-3">[4]</a> Dalam <a title="Hadits" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Hadits">hadits</a> dinyatakan bahwa shalat yang tidak disertai al-Fatihah adalah shalat yang &#8220;buntung&#8221; dan &#8220;tidak sempurna&#8221;.<a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-4">[5]</a> Walau  begitu, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak hafal  Al-Fatihah. Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal  Al-Fatihah diperintahkan membaca:</p>
<dl>
<dd>&#8220;<em>Maha Suci Allah, segala puji milik Allah, tidak ada tuhan  kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali  karena pertolongan Allah.</em>&#8220;<a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-5">[6]</a></dd>
</dl>
<p>Dalam pelaksanaan shalat, Al-Fatihah dibaca setelah pembacaan <a title="Doa Iftitah (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Doa_Iftitah&amp;action=edit&amp;redlink=1">Doa Iftitah</a> dan dilanjutkan dengan &#8220;<a title="Amin (shalat) (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Amin_%28shalat%29&amp;action=edit&amp;redlink=1">Amin</a>&#8221;  dan kemudian membaca ayat atau surah al-Qur&#8217;an (pada rakaa&#8217;at  tertentu). Al-Fatihah yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua dalam  shalat, harus diiringi dengan ayat atau surah lain al-Qur&#8217;an. Sedangkan  pada rakaat ketiga hingga keempat, hanya Al-Fatihah saja yang dibaca.<a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-6">[7]</a></p>
<p>Disebutkan bahwa pembacaan Al-Fatihah seperti yang dicontohkan <a title="Muhammad" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Muhammad">Nabi Muhammad</a> adalah dengan memberi jeda pada setiap ayat hingga selesai membacanya<a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-7">[8]</a>, misal:</p>
<dl>
<dd><em><a title="Basmalah" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Basmalah">Bismillāhir rahmānir rahīm</a></em> (jeda) <em>Alhamdu lillāhi rabbil ʿālamīn</em> (jeda) <em>Arrahmānir rahīm</em> (jeda) <em>Māliki yaumiddīn</em> (jeda) dan seterusnya.</dd>
</dl>
<p>Selain itu, kadang bacaan Nabi Muhammad pada ayat <em>Maliki yaumiddīn</em> dengan <em>ma</em> pendek dibaca <em>Māliki yaumiddīn</em> dengan <em>ma</em> panjang.<a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-8">[9]</a></p>
<p>Dalam shalat, Al-Fatihah biasanya diakhiri dengan kata &#8220;Amin&#8221;. &#8220;Amin&#8221; dalam <a title="Shalat Jahr (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Shalat_Jahr&amp;action=edit&amp;redlink=1">shalat Jahr</a> biasanya didahului oleh imam dan kemudian diikuti oleh makmum. Pembacaan &#8220;Amin&#8221; diharuskan dengan suara keras dan panjang.<a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-9">[10]</a> Dalam hadits disebutkan bahwa makmum harus mengucapkan &#8220;amin&#8221; karena <a title="Malaikat" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Malaikat">malaikat</a> juga mengucapkannya, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa &#8220;amin&#8221; diucapkan apabila imam mengucapkannya.<a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-SSN-10">[11]</a></p>
<p>Pembacaan Al-Fatihah dan surah-surah lain dalam shalat ada yang  membacanya keras dan ada yang lirih. Hal itu tergantung dai shalat yang  sedang dijalankan dan urutan rakaat dalam shalat. Shalat yang melirihkan  seluruh bacaannya (termasuk Al-Fatihah dan surah-surah lain) dari awal  hingga akhir shalat, disebut <a title="Shalat Sir (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Shalat_Sir&amp;action=edit&amp;redlink=1">Shalat Sir</a> (membaca tanpa suara). Shalat Sir contohnya adalah <a title="Shalat Zuhur (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Shalat_Zuhur&amp;action=edit&amp;redlink=1">Shalat Zuhur</a> dan <a title="Shalat Ashar (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Shalat_Ashar&amp;action=edit&amp;redlink=1">Shalat Ashar</a> dimana  seluruh bacaan shalat dalam shalat itu dilirihkan. Selain shalat Sir,  terdapat pula shalat Jahr, yaitu shalat yang membaca dengan suara keras.  Shalat Jahr contohnya adalah <a title="Shalat Subuh (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Shalat_Subuh&amp;action=edit&amp;redlink=1">shalat Subuh</a>, <a title="Shalat Maghrib (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Shalat_Maghrib&amp;action=edit&amp;redlink=1">shalat Maghrib</a>, dan <a title="Shalat Isya' (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Shalat_Isya%27&amp;action=edit&amp;redlink=1">shalat Isya&#8217;</a>.  Dalam shalat Jahr yang berjamaah, Al-Fatihah dan surah-surah lain  dibaca dengan keras oleh imam shalat. Sedangkan pada saat itu, makmum  tidak diperbolehkan mengikuti bacaan <a title="Imam shalat" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Imam_shalat">Imam</a> karena dapat mengganggu bacaan Imam dan hanya untuk mendengarkan.<a title="Makmum" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Makmum">Makmum</a> dipererbehkan membaca (dengan lirih) apabila imam tidak mengeraskan suaranya.<a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-SSN-10">[11]</a> Sementara  dalam Shalat Lail, bacaan Al-Fatihah diperbolehkan membaca keras dan  diperbolehkan lirih, hal ini seperti yang tertera dalam hadits:</p>
<dl>
<dd><em>&#8220;<a title="Rasulullah" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Rasulullah">Rasulullah</a> bersabda, &#8220;Wahai <a title="Abu Bakar" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Abu_Bakar">Abu Bakar</a>, saya telah lewat di depan rumahmu ketika engkau <a title="Shalat Lail (halaman belum tersedia)" href="http://ruangmuslim.com/w/index.php?title=Shalat_Lail&amp;action=edit&amp;redlink=1">shalat Lail</a> dengan bacaan lirih.&#8221; Abu Bakar menjawab, &#8220;Wahai Rasulullah, Dzat yang aku bisiki sudah mendengar.&#8221; Beliau bersabda kepada <a title="Umar bin Khattab" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Umar_bin_Khattab">Umar</a>,  &#8220;Aku telah lewat di depan rumahmu ketika kamu shalat Lail dengan bacaan  yang keras.&#8221; Jawabnya, &#8220;Wahai Rasulullah, aku membangunkan orang yang  terlelap dan mengusir setan.&#8221; Nabi <a title="Muhammad" href="http://ruangmuslim.com/wiki/Muhammad">SAW.</a> bersabda, &#8220;Wahai Abu Bakar, keraskan sedikit suaramu.&#8221; Kepada Umar beliau bersabda, &#8220;Lirihkan sedikit suaramu.&#8221;</em><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_note-11">[12]</a></dd>
</dl>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div>
<div>images/mp3assets/mp3s/Murottal/Al-Ghamidi &#8211; Murottal/001 Al-Fatihah.mp3&#8243; /&gt;</div>
</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td align="right">Langsung Menuju Ayat: <a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#ayat%201">1</a> &#8211; <a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#2">2</a> &#8211; <a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#3">3</a> &#8211; <a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#4">4</a> &#8211; <a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#5">5</a> &#8211; <a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#6">6</a> &#8211; <a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#7">7</a></td>
</tr>
<tr>
<td>Muqaddimah Surat Al-Fatihah</p>
<p>Surat <em>Al Faatihah</em> (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah  dan  terdiri dari 7  ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan  dengan  lengkap diantara  surat-surat yang ada dalam Al Quran dan  termasuk  golongan surat Makkiyyah. Surat  ini disebut <em>Al Faatihah</em> (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka  dan dimulainya Al Quran. Dinamakan <em>Ummul Quran</em> (induk Al Quran) atau  <em>Ummul Kitaab</em> (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi  Al Quran,   dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap  sembahyang.</p>
<p>Dinamakan pula <em>As Sab&#8217;ul matsaany</em> (tujuh yang  berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam  sembahyang.</p>
<p>Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan  seluruh isi Al Quran, yaitu :</p>
<p><em>1. Keimanan:</em><br />
Beriman kepada Tuhan  Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana   dinyatakan dengan tegas bahwa segala  puji dan ucapan syukur atas suatu   nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah  Pencipta dan sumber segala   nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat  itu ialah :  nikmat  menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata  <em>Rab</em> dalam kalimat <em>Rabbul-&#8217;aalamiin</em> tidak hanya berarti  <em>Tuhan</em> atau <em>Penguasa</em>,   tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu  mendidik dan menumbuhkan.   Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat  oleh seseorang   dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari  Allah,   karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan    dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan   dipikirkan oleh  manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber   pelbagai macam ilmu  pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia   kepada keagungan dan kemuliaan  Allah, serta berguna bagi masyarakat.   Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu  merupakan masalah yang pokok,   maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup  dinyatakan dengan isyarat   saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5,  yaitu : <em>Iyyaaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;iin</em> (hanya Engkau-lah yang kami  sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami   mohon pertolongan). Janji memberi  pahala terhadap perbuatan yang baik   dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.</p>
<p>Yang dimaksud dengan <em>Yang Menguasai Hari Pembalasan</em> ialah pada   hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk  kepada  kebesaran-Nya  sambil mengharap nikmat dan takut kepada  siksaan-Nya. Hal  ini mengandung arti  janji untuk memberi pahala  terhadap perbuatan yang  baik dan ancaman terhadap  perbuatan yang  buruk. <em>Ibadat</em> yang terdapat pada ayat 5 semata-mata  ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat no. <a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#6">[6]</a>.</p>
<p><em>2. Hukum-hukum:</em><br />
Jalan kebahagiaan  dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk   memperoleh kebahagiaan dunia  dan akhirat. Maksud &#8220;Hidayah&#8221; disini ialah   hidayah yang menjadi sebab dapatnya  keselamatan, kebahagiaan dunia  dan  akhirat, baik yang mengenai kepercayaan  maupun akhlak, hukum-hukum  dan  pelajaran.</p>
<p><em>3. Kisah-kisah:</em><br />
Kisah  para Nabi  dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah.  Sebahagian besar   dari ayat-ayat Al Quran memuat kisah-kisah para Nabi  dan kisah  orang-orang  dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang  yang  diberi nikmat dalam ayat  ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin   (orang-orang yang sungguh-sungguh  beriman), syuhadaa&#8217; (orang-orang yang   mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang  saleh). <em>Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat,</em> ialah  golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.</p>
<p>Perincian dari yang telah  disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al Quran pada surat-surat yang lain.</p>
<div><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas">ke atas </a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td><a name="ayat 1"></a><img src="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_1.png" alt="1_1" width="675" height="54" /></p>
<div><em>bismi <strong>al</strong>laahi <strong>al</strong>rrahmaani <strong>al</strong>rrahiim<strong>i</strong></em></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang</strong><sup><strong>1</strong></sup></div>
<div>[1]  Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan  menyebut nama  Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan  menyebut  asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya.   Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan   sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang   membutuhkan-Nya. <em>Ar Rahmaan</em> (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang  memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya,  sedang <em>ar Rahiim</em> (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah  senantiasa bersifat  rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya  kepada  makhluk-Nya.</div>
<div><strong>Tafsir Jalalain</strong></div>
<div>(Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah  lagi Maha Penyayang)</div>
<div><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas">ke atas </a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td><a name="2"></a><img src="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_2.png" alt="1_2" /></p>
<div><em>alhamdu lillaahi rabbi <strong>a</strong>l&#8217;aalamiin<strong>a</strong></em></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>2. Segala puji </strong><sup><strong>2</strong></sup><strong><sup> </sup>bagi Allah, Tuhan semesta alam.</strong><sup><strong>3</strong></sup></div>
<div>[2] <em>Alhamdu</em> (segala puji).  Memuji orang adalah  karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya  dengan kemauan sendiri. Maka  memuji Allah berrati: menyanjung-Nya  karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya  dengan syukur yang berarti:  mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang  diberikannya. Kita  menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber  dari  segala kebaikan yang patut dipuji.</p>
<p>[3] <em>Rabb</em> (Tuhan) berarti:  Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal <em>rabb</em> tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti  <em>rabbul bait</em> (tuan rumah).<br />
<em>&#8216;Alamiin</em> (semesta alam): semua yang  diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai  jenis dan macam, seperti: alam  manusia, alam hewan, alam  tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya.  ALlah pencipta semua  alam-alam itu.</div>
<div><strong>Tafsir Jalalain</strong></div>
<div>(Segala  puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud  sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung  di dalamnya, yaitu bahwa Allah Taala adalah yang memiliki semua pujian  yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah  bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah  merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. (Tuhan semesta alam)  artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu  terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan  lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam  manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal &#8216;al-`aalamiin&#8217; merupakan  bentuk jamak dari lafal &#8216;`aalam&#8217;, yaitu dengan memakai huruf ya dan  huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya.  Kata &#8216;aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda  bagi adanya yang menciptakannya.</div>
<div><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas">ke atas </a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td><a name="3"></a><img src="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_3.png" alt="1_3" width="675" height="53" /></p>
<div><em>a<strong>l</strong>rrahmaani <strong>al</strong>rrahiim<strong>i</strong></em></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>Tafsir Jalalain</strong></div>
<div>(Yang  Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) yaitu yang mempunyai rahmat. Rahmat  ialah menghendaki kebaikan bagi orang yang menerimanya.</div>
<div>
<div><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas">ke atas </a></div>
<p><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td><a name="4"></a><img src="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_4.png" alt="1_4" width="675" height="51" /></p>
<div><em>maaliki yawmi <strong>al</strong>ddiin<strong>i</strong></em></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>4. Yang menguasai </strong><sup><strong>4</strong></sup><strong>di Hari Pembalasan</strong><sup><strong>5</strong></sup></div>
<div>[4] <em>Maalik</em> (Yang Menguasai) dengan memanjangkan  <em>mim</em>,ia berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan <em>Malik</em> (dengan  memendekkan <em>mim</em>), artinya: Raja.</p>
<p>[5] <em>Yaumiddin</em> (Hari  Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia  menerima pembalasan  amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin  disebut juga yaumulqiyaamah,  yaumulhisaab, yaumuljazaa&#8217; dan sebagainya.</div>
<div><strong>Tafsir Jalalain</strong></div>
<div>(Yang  menguasai hari pembalasan) di hari kiamat kelak. Lafal &#8216;yaumuddiin&#8217;  disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang  mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata, sesuai dengan  firman Allah Taala yang menyatakan, &#8220;Kepunyaan siapakah kerajaan pada  hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha  Mengalahkan.&#8221; (Q.S. Al-Mukmin 16) Bagi orang yang membacanya &#8216;maaliki&#8217;  maknanya menjadi &#8220;Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat&#8221;. Atau  Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama  dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti &#8216;ghaafiruz dzanbi&#8217; (Yang  mengampuni dosa-dosa). Dengan demikian maka lafal &#8216;maaliki yaumiddiin&#8217;  ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah (dikenal).</div>
<div>
<div><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas">ke atas </a></div>
<p><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td><a name="5"></a><img src="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_5.png" alt="1_5" width="675" height="54" /></p>
<div><em>iyyaaka na&#8217;budu wa-iyyaaka nasta&#8217;iin<strong>u</strong></em></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>5. Hanya Engkaulah yang kami sembah</strong><sup><strong>6</strong></sup><strong>, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. </strong><sup><strong>7</strong></sup></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><a name="6"></a>[6] <em>Na&#8217;budu</em> diambil dari kata <em>&#8216;ibaadat</em>:   kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap  kebesaran  Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa  Allah mempunyai  kekuasaan yang mutlak terhadapnya.</p>
<p>[7] <em>Nasta&#8217;iin</em> (minta  pertolongan), terambil dari kata <em>isti&#8217;aanah</em>: mengharapkan bantuan untuk  dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga  sendiri.</div>
<div><strong>Tafsir Jalalain</strong></div>
<div>(Hanya  Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon  pertolongan) Artinya kami beribadah hanya kepada-Mu, seperti mengesakan  dan lain-lainnya, dan kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu dalam  menghadapi semua hamba-Mu dan lain-lainnya.</div>
<div>
<div><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas">ke atas </a></div>
<p><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td><a name="6"></a><img src="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_6.png" alt="1_6" width="675" height="70" /></p>
<div><em>ihdinaa <strong>al</strong>shshiraatha <strong>a</strong>lmustaqiim<strong>a</strong></em></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>
<div><strong>6. Tunjukilah</strong><sup><strong>8</strong></sup><strong> kami jalan yang lurus, </strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<div>[8] <em>Ihdina</em> (tunjukilah kami), dari kata  <em>hidayaat</em>:  memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud  dengan ayat  ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>Tafsir Jalalain</strong></div>
<div>Tunjukilah  kami ke jalan yang lurus) Artinya bimbinglah kami ke jalan yang lurus,  kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu:</div>
<div>
<div><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas">ke atas </a></div>
<p><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a></div>
</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td><a name="7"></a><img src="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_7.png" alt="1_7" width="675" height="133" /></p>
<div><em>shiraatha <strong>al</strong>ladziina an&#8217;amta &#8216;alayhim ghayri <strong>a</strong>lmaghdhuubi &#8216;alayhim walaa <strong>al</strong>dhdhaalliin<strong>a</strong></em></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>7. (yaitu) Jalan orang-orang  yang telah Engkau beri ni&#8217;mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang  dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.</strong><sup><strong>9</strong></sup></div>
<div>[9] Yang dimaksud dengan <em>mereka yang dimurkai</em> dan  <em>mereka yang sesat</em> ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.</div>
<div><strong>Tafsir Jalalain</strong></div>
<div>(Jalan  orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), yaitu  melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh  ayat berikut: (Bukan (jalan) mereka yang dimurkai) Yang dimaksud adalah  orang-orang Yahudi. (Dan bukan pula) dan selain (mereka yang sesat.)  Yang dimaksud adalah orang-orang Kristen. Faedah adanya penjelasan  tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat  hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang  Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah  dikembalikan segala sesuatu. Semoga selawat dan salam-Nya dicurahkan  kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan para  sahabatnya, selawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi  kita Allah sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya  dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Maha  Tinggi lagi Maha Besar.</div>
<div>
<div><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas">ke atas </a></div>
<p><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td><strong>Penutup</strong></p>
<p>Surat Al Fatihaah ini melengkapi  unsur-unsur pokok syari&#8217;at Islam, kemudian  dijelaskan perinciannya oleh  ayat-ayat Al Quran yang 113 surat berikutnya.</p>
<p>Persesuaian  surat ini dengan surat Al Baqarah dan surat-surat sesudahnya  ialah  surat Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci   dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.</p>
<p>Dibahagian  akhir  surat Al Faatihah disebutkan permohonan hamba supaya diberi  petunjuk oleh Tuhan  kejalan yang lurus, sedang surat Al Baqarah dimulai  dengan penunjukan <em>al  Kitaab</em> (Al Quran) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang  dimaksudkan itu.</p>
<div><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas">ke atas </a></div>
<p><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#atas"> </a></td>
</tr>
<tr>
<td>
<h2>Catatan kaki</h2>
<div>
<ol>
<li id="cite_note-C-0"><strong>^</strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-0">a</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-1">b</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-2">c</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-3">d</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-4">e</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-5">f</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-6">g</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-7">h</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-8">i</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-9">j</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-10">k</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-11">l</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-C_0-12">m</a> &#8220;Banyak nama untuk sebutan Surah al-Fatihah&#8221;, <em>Hidayah</em>, Februari 2009</li>
<li id="cite_note-Al-Jumunatul_.27Ali-1"><strong>^</strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-Al-Jumunatul_.27Ali_1-0">a</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-Al-Jumunatul_.27Ali_1-1">b</a> Departemen Agama RI (1987). hal 3</li>
<li id="cite_note-2"><strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-2">^</a></strong> Hamzah (2003). hal 47</li>
<li id="cite_note-3"><strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-3">^</a></strong> &#8220;Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca Al-Fatihah&#8221;. HR. Bukhari, Muslim, Abu Awanah, dan Baihaqi. Baca <em>Irwa&#8217;</em> Hadits no. 302</li>
<li id="cite_note-4"><strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-4">^</a></strong> HR. Muslim dan Abu &#8216;Awanah</li>
<li id="cite_note-5"><strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-5">^</a></strong> HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Hakim, Thabarani, dan Ibnu Hibban. Disahkan oleh Hakim dan disetujui Dzahabi. Baca <em>Al-Irwa&#8217;</em> Hadits no. 303</li>
<li id="cite_note-6"><strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-6">^</a></strong> HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih. Baca <em>Al-Irwa&#8217;</em> Hadits no.506</li>
<li id="cite_note-7"><strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-7">^</a></strong> HR. Abu Dawud dan dan Sahmi, disahkan oleh Hakim dan disetujui oleh Dzahabi. Baca <em>Al-Irwa&#8217;</em> Hadits no. 343. Diriwayatkan pula oleh &#8216;Amr ad-Dani dalam Kitab <em>Muktafa</em> 5/2.</li>
<li id="cite_note-8"><strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-8">^</a></strong> HR. Tamam ar-Razi dalam <em>Al-Fawaaid</em>, Ibnu Abu Dawud dalam <em>Al-Mushahif</em> 7/2, Abu Nu&#8217;aim dalam <em>Akhbaari Asbahan</em> 1/104, dan Hakim, disahkan oleh Hakim dan disetujui Dzahabi.</li>
<li id="cite_note-9"><strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-9">^</a></strong> HR. Bukhari dan Abu Dawud dengan sanad sahih.</li>
<li id="cite_note-SSN-10"><strong>^</strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-SSN_10-0">a</a><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-SSN_10-1">b</a> Muhammad Nashrudin Al-Albani. <em>Sifat Shalat Nabi</em>. 2000. Yogyakarta: Media Hidayah</li>
<li id="cite_note-11"><strong><a href="http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html#cite_ref-11">^</a></strong> HR. Abu Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim dan disetujui Dzahabi.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>dari http://ruangmuslim.com/quran/160-001-al-fatihah.html</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mcdodo.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mcdodo.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mcdodo.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mcdodo.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mcdodo.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mcdodo.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mcdodo.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mcdodo.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mcdodo.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mcdodo.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mcdodo.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mcdodo.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mcdodo.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mcdodo.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mcdodo.wordpress.com&amp;blog=6027748&amp;post=191&amp;subd=mcdodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mcdodo.wordpress.com/2011/04/14/001-al-fatihah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60d4067eabf3cf7d5bd5693335c685ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mcdodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_1.png" medium="image">
			<media:title type="html">1_1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_2.png" medium="image">
			<media:title type="html">1_2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_3.png" medium="image">
			<media:title type="html">1_3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_4.png" medium="image">
			<media:title type="html">1_4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_5.png" medium="image">
			<media:title type="html">1_5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_6.png" medium="image">
			<media:title type="html">1_6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangmuslim.com/images/stories/teks-quran/1_files/1_7.png" medium="image">
			<media:title type="html">1_7</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
